Menakar Potensi ‘Lima Pandawa’ FKMK yang di Prediksi Bakal Tarung di Pilkada Parimo 2024

Dari kiri ke kanan; Arman Maulana, Faisan Badja, Abd. Radjab Pokay, Adrudin Nur, Kamiludin Passau.

Oleh : Fadli Arifin Azis (FAA)

Bacaan Lainnya

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Parigi Moutong sudah mulai melakukan tahapan pemilu, termasuk update data pemilih, sosialisasi terhadap partai-partai politik dan lain-lain. Hal tersebut seolah mengingatkan masyarakat akan momentum pemilu, termasuk perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada).

Sejauh ini, telah banyak bermunculan figur-figur, baik berlatarbelakang politisi, birokrat dan pengusaha yang digadang-gadang punya kesiapan bertarung di tingkat legislatif hingga kontestasi pilkada 2024 mendatang.

Diskusi diruang-ruang publik, baik di media sosial hingga di warung-warung kopi justru menganggap lebih sexy jika membicarakan pemilihan Bupati Parigi Moutong.

Banyaknya bakal calon bupati dan wakil bupati Parigi Moutong yang mulai tebar pesona bukan tanpa sebab. Incumbent Bupati Parigi Moutong, Samsurizal Tombolotutu sudah menjabat dua periode, artinya mantan komandan Kodim 1405 Pare-pare itu tidak lagi bisa mencalonkan diri.

Selain partai politik yang mendorong kader, tak ketinggalan organisasi kemasyarakatan (ormas) semisal, Forum Komunikasi Masyarakat Kaili (FKMK) turut ambil momentum ‘menjual’ beberapa tokoh sentralnya.

Sebelum pelantikan pengurus FKMK yang dihelat 12 Februari 2022, beranda medsos facebook saat itu diramaikan dengan postingan foto ‘Lima Pandawa’. Tentu saja mengundang tanya, karena dari puluhan orang yang menjadi pengurus hanya ‘tuaka-tuaka’ ini saja yang berpose keren menggunakan batik dan siga.

Dari lima orang itu, dua diantaranya merupakan pengurus inti organisasi. Yakni, Abd. Rajab Pokay selaku Ketua dan Faisan Badja selaku Bendahara Umum, sedangkan Arman Maulana, Adrudin Nur dan Kamiluddin Passau hanyalah ketua-ketua bidang.

Bagi saya, secara semiotik kelimanya sengaja ditampilkan, terlebih figur-figur tersebut saat ini menduduki jabatan-jabatan strategis pemerintahan daerah dan mantan pejabat teras yang kini memimpin ormas FKMK.

Pandangan bahwa kelimanya punya niatan bertarung di Pilkada 2024 tentu saja bukan opini semata, justru diakui langsung dan terbuka oleh mereka serta diperkuat orang-orang dekatnya.

Saya kemudian tertarik menyebut kelimanya sebagai lima pandawa sebab, dalam dunia pewayangan selalu dikaitkan sebagai tokoh dalam dunia kebaikan. Kelima tokoh FKMK ini punya karakter dan track record yang cukup baik serta niat ingin menghadirkan perubahan.

Lantas bagaimana potensi ‘Lima Pandawa’ FKMK menatap Pilkada 2024 mendatang? Berikut profil kelimanya :

Abdul Rajab Pokay

Pasca purna tugas, mantan Plt Sekretaris Daerah Parigi Moutong itu aktif dalam kegiatan organisasi. Ia diketahui saat ini menjabat sebagai Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Kaili periode 2022 – 2027.

Menjabat Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) selama bertahun-tahun, saya menganggap ia bersih dan jauh dari gosip terlibat dalam kasus korupsi. Selama aktif sebagai birokrat ia memiliki loyalitas dan berkinerja baik. Bukan kata saya, hal itu pernah disampaikan Samsurizal Tombolotutu.

“Dimata saya beliau pejabat tanpa cacat, mulai dari pertama menjabat sampai akhir jabatan tidak pernah cacat. Padahal beliau itu berkecimpung di bidang keuangan. Oleh kerena itu saya sampaikan terima kasih kepada Pak Rajab. Saya minta jejak Rajab Pokay ini dapat dicontoh oleh Kepala OPD lainnya,” katanya, seperti saya kutip dari berita sulteng.antaranews

Walaupun tidak secara terbuka, informasi yang diperoleh dari salah satu orang dekatnya menyebut suami dari Riana Monoarfa ini siap kalau terbuka kesempatan. Kabarnya, saat ini ia bergabung dengan Partai NasDem dan masuk dalam komposisi sebagai bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) DPRD Parigi Moutong dari dapil I.

Menyambut tahun politik, sejauh ini belum ada pergerakan yang berarti ia lakukan baik sosialisasi diri dan pembentukan relawan.

Kamiludin Passau

Sejumlah jabatan eselon II lingkup pemerintah kabupaten Parigi Moutong pernah di embannya. Saat ini mantan Ketua Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki) Parimo itu mendapat kepercayaan sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusarda).

Memimpin Dispusarda, Kabupaten Parimo dinobatkan peringkat pertama sebagai penyelenggara kearsipan daerah 2022 mengungguli Kota Palu dan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Dalam kontestasi pilkada, bukan baru kali ini saja ia berwacana untuk maju sebagai orang nomor satu di daerah ini, pada pilbup 2018 silam dirinya sempat berjuang untuk maju dan mendaftar kebeberapa partai, diantaranya Nasdem, Demokrat, Hanura, PDIP dan PBB namun gagal mendapat rekomendasi.

Dalam pemilukada serentak yang dijadwalkan November 2024 mendatang, mantan Kepala Kesbangpol Parimo itu kembali mencoba peruntungan. Namun dalam beberapa kesempatan ia berharap di pinang oleh calon Bupati yang di rekomendasi oleh nasdem. “Siapapun yang didukung oleh NasDem saya siap menjadi wakilnya” ujarnya dalam sebuah acara aqiqah keluarga pada 15 Maret 2022.

Anak mantan camat Parigi, H. Arsit Passau ini sudah mulai ‘tancap gas’. Di beberapa titik mulai terpasang baliho berukuran kecil dengan menggunakan baju adat berwarna hitam dan siga berwarna kuning.

Adrudin Nur

Sosok Inspektur Inspektorat Kabupaten Parigi Moutong ini paling sulit ditebak secara pasti apakah ia punya keinginan untuk Maju Pilbup atau tidak. Karena sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda berarti yang ia tunjukan.

Informasi yang cukup valid dari orang dekatnya sedikit membenarkan bahwa ada keinginan mantan Kepala Dinas Pendidikan Parimo itu untuk bertarung. Namun, masih banyak pertimbangan dan hitungan, terlebih masa purna bakti sebagai ASN cukup panjang, sekira 7 tahunan.

Beberapa nama bakal calon Bupati mulai meliriknya dan melakukan pertemuan silaturahmi. Informasi yang dihimpun ada nama Erwin Burase dan Muslih yang coba melakukan penjajakan politik dengannya.

Walaupun belum sama sekali bergerak melakukan konsolidasi, Adrudin Nur dianggap salah satu figur potensial selain track recordnya memimpin sejumlah OPD, sebut saja Kepala BKD hingga Bappeda dan ia juga mempunyai kinerja baik selama ini.

Arman Maulana

Memulai karir fungsional sebagai Guru, Saat ini ia menjabat Kepala Dinas Perhubungan Parigi Moutong. Arman sapaan akrabnya, dikabarkan akan mencoba peruntungan berebut jadi orang nomor satu di kabupaten yang memiliki motto Songu Lara Mombangu ini.

Arman Maulana, figur bakal calon Bupati yang saat ini paling aktif melakukan silaturahmi. Disela kesibukannya, ia selalu menyempatkan waktu menghadiri undangan pesta pernikahan, kedukaan dan acara-acara lainnya. Terdengar kabar ia akan maju melalui jalur perseorangan.

Bahkan kabarnya, Arman telah memiliki pasangan. Tak main-main, mantan Kepala BPBD Parimo itu menggandeng pengusaha galian C asal Toribulu, Sahid Daeng Mapato.

Saat ini, saya tidak menyebut kandidat Arman – Sahid sebagai pasangan independen yang paling siap, tetapi melihat gerak sosialisasi keduanya bisa saja mereka yang paling serius untuk menatap pilbup mendatang. Konon, KTP yang telah dikumpulkan telah mendekati syarat pencalonan.

Sesuai PKPU No 3 tahun 2017 tentang Pencalonan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota menyebut bahwa kabupaten/kota dengan jumlah penduduk yang termuat pada daftar pemilih tetap lebih dari 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa harus didukung paling sedikit 8,5 persen (tujuh setengah persen).

Dengan demikian, sesuai jumlah DPT Parigi Moutong di Pilgub 2020 yang berjumlah hampir 300.000, calon perseorangan di syaratkan memiliki dukungan lebih dari 25.500 KTP.

Kita ketahui, dalam sejarah penyelenggaraan Pilkada langsung sejak 2008 hingga kini belum pernah ada calon yang lolos sebagai calon bupati/wakil bupati dan memenangkan pertarungan pilkada dari jalur tersebut.

Faisan Badja

Faisan yang kerap disapa Lelo, merupakan Politisi Partai Gerindra. Sejak 2019, ia dipercaya Ketua DPD Partai Gerindra Longki Djanggola menjabat Wakil Ketua I DPRD Parigi Moutong.

Di Pileg 2019, Lelo yang juga menjabat Ketua KONI Parimo itu adalah peraih suara terbanyak dengan perolehan lebih dari 3000 suara dan terbesar di dapil I.

Pria kelahiran 28 September 1974 itu menurut saya harus diperhitungkan. Sebab, di dua pemilu terakhir ia teruji dengan peningkatan suara yang luar biasa dari pemilu 2014 dan pemilu 2019.

Namanya salah satu yang disebut Longki Djanggola sebagai kader yang punya bobot dan potensi untuk direkomendasikan dalam pilkada parimo mendatang. Namun, untuk merebut hati mantan Gubernur Sulawesi Tengah itu, tentu saja ia harus bersaing dengan seniornya yakni Ketua DPC Partai Gerindra yang juga Wakil Bupati Parigi Moutong, Badrun Nggai.

Tokoh-Tokoh APS Hanya Berada di Posisi Wakil Bupati

Isu APS (wilayah eks kecamatan Ampibabo, eks Kecamatan Parigi dan eks Kecamatan Sausu) dan TTM ( Tinombo, Tomini, Moutong) nampaknya masih cukup kuat. Dikotomi kewilayahan ini memang cukup berpengaruh dalam setiap kali momentum pilkada. Memang, secara Demografis wilayah TTM punya jumlah pemilih yang besar, namun itu bukan sebuah hal mutlak ketika figur-figur APS punya kesungguhan untuk aktif melakukan sosialisasi diri dan menjual gagasan.

Memang, sejak Longki Djanggola menjabat Bupati Parigi Moutong, tokoh ‘tuan rumah’ APS belum pernah menikmati empuknya kursi Bupati. Figur APS hanya mengisi posisi kedua didaerah berpenghasil beras di sulawesi tengah ini. Sebut saja mendiang Asmir Ntosa, Kemal Natsir Toana dan selama dua periode ini posisi wakil bupati Parimo masih di jabat Badrun Nggai SE.

Lima Pandawa yang dimiliki FKMK sebagai representasi APS ini, seharusnya sudah menyeriusi niatnya, kalau benar ingin bertarung di Pilkada 2024. Bukan lagi hanya tampil dengan wacana setiap kali pilkada namun harus betul-betul action.

Sebab kini, penetrasi media, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan pola berpikir warga membuat batas-batas politik identitas dan kewilayahan semakin terkikis. Masyarakat sekarang sudah beda dengan 5-10 tahun lalu. Saya harap ini dibaca sebagai peluang para elite politik khususnya kelima pandawa FKMK jika ingin seriusi langkah. Karena yang dipertarungkan nanti adalah program dan kinerja, bukan politik identitas dan kewilayahan.

banner 970x90

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.